Saya Beda dengan BW, Tidak Mengharap Belas Kasihan Jaksa Agung

Berita12 Dilihat

Kamis, 4 April 2024 – 13:02 WIB

Jakarta – Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada Edward Omar Sharif Hiariej atau Eddy Hiariej menanggapi keberatan yang diajukan anggota Tim Hukum Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Bambang Widjojanto alias BW. Sebelumya, BW lakukan walkout karena keberatan atas kehadiran Eddy sebagai ahli dalam sidang sengketa Pilpres 2024.

Baca Juga :

Candaan Hotman Paris Goda Yusril jadi Jaksa Agung dan Ajak Refly Harun Nyeberang Biar jadi Mendagri

BW keberatan karena status Eddy Hiariej yang tersangkut kasus hukum di KPK. Momen BW walkout keluar ruang sidang dilakukan saat Eddyhendak menyampaikan keterangan sebagai ahli kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

“Saya kira saya berhak untuk tidak terjadi character assasination (pembunuhan karakter). Karena begitu dikatakan saudara BW hari ini pemberitaan dengan seketika mempersoalkan keberadaan saya,” kata Eddy di ruang sidang MK, Kamis, 4 April 2024.

Baca Juga :

Bakal Ada Publik Figur Lain Terseret Kasus Korupsi Harvey Moeis? Begini Kata Kejagung

Eddy menilai, keberatan BW terkait status tersangka dirinya itu tidak disampaikan secara utuh dalam persidangan. Dia juga menyinggung pernyataan Jubir KPK Ali Fikri yang akan menerbitkan surat perintah penyidikan atau sprindik baru mengenai kasus yang menjeratnya.

“Ali Fikri mengatakan akan menerbitkan sprindik umum dengan melihat perkembangan kasus,” ujarnya.

Baca Juga :

Margarito Kamis: Pengangkatan Penjabat Kepala Daerah Tidak Beri Keuntungan Bagi Prabowo-Gibran

Bambang Widjojanto alias BW, di Sidang MK

Lebih lanjut, Eddy juga menyindir BW saat pernah ditetapkan sebagai tersangka. Kata dia, BW hanya mengharapkan belas kasihan jaksa agung.

Sementara, Eddy mengklaim berupaya lepas dari status tersangka dengan mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Baca Juga  Pengakuan Finalis Miss Universe Indonesia 2023, Dibentak Saat Mencoba Tutupi Area Privatnya

“Status saya sebagai tersangka sudah saya challenge di PN Jakarta Selatan dan putusan tanggal 30 membatalkan status saya sebagai tersangka,” lanjut Eddy.

Eddy pun menegaskan dirinya berbeda dengan BW dalam melawan status tersangka.

“Jadi saya berbeda dengan saudara BW, ketika ditetapkan sebagai tersangka, dia tidak menchallange tapi mengharapkan belas kasihan jaksa agung,” ujar Eddy.

Seperti diketahui, sebelum sidang dimulai BW sempat protes kehadiran Eddy sebagai ahli yang dihadirkan kubu Prabowo-Gibran. BW menyinggung soal status dan kasus dugaan korupsi terhadap Eddy yang tengah diusut KPK.

“Apa bisa satu lagi? Saya dapat info di berita, sahabat saya Eddy, kalau (KPK) terbitkan penyidikan baru ke Eddy,” ucap BW.

Hakim konstitusi Suhartoyo sempat pertanyakan argumen BW soal relevansi status tersebut dengan kehadiran Eddy sebagai ahli di sidang.

“Apa relevansinya?,” tanya Suhartoyo.

BW mengingatkan status Eddy yang pernah jadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi sebaiknya dipertimbangkan tak menjadi ahli. Hal itu untuk menghormati persidangan MK.

“Relevansinya adalah seseorang yang jadi tersangka apalagi dalam kasus tindak korupsi untuk menghormati mahkamah ini, sebaiknya dibebaskan sebagai ahli,” ujar BW.

“Bapak kan mantan Ketua KPK, baru penyidikan atau tersangka baru?” balas Suhartoyo.

“Saya ingin mengajukan ini jadi sebuah pertimbangan, nanti majelis pertimbangkan,” ujar BW.

“Iya nanti majelis pertimbangkan,” jawab Suhartoyo.

Tak lama kemudian, saat Eddy hendak beri keterangan sebagai ahli, BW menyampaikan protesnya dengan walkout.

Halaman Selanjutnya

Sementara, Eddy mengklaim berupaya lepas dari status tersangka dengan mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *