Subvarian COVID-19 EG.5 Terdeteksi di Indonesia, Seperti Apa Gejala Khasnya?

Berita338 Dilihat

Rabu, 6 Desember 2023 – 17:53 WIB

JAKARTA – Kasus COVID-19 di Indonesia diketahui mengalami peningkatan. Peningkatan kasus terlihat pada rentan waktu Oktober hingga November 2023.

Baca Juga :

Kasus COVID-19 di Indonesia Naik Lagi, Didominasi Subvarian EG.5

Dari data yang diungkap Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Prof. Dr.dr. Erlina Burhan, SpP(K), Msc peningkatan terjadi hampir lebih dari 2 kali lipat. Scroll lebih lanjut ya.

“Oktober 65 kasus terkonfirmasi, 20-26 November kasus naik dua kali lipat menjadi 151 kasus. Kasus meninggal ada 1 kasus di November,” kata Erlina Burhan dalam virtual media briefing, Rabu 6 Desember 2023.

Baca Juga :

6 Kasus Mycoplasma Pneumoniae Terdeteksi di RI, Ternyata Sudah Ada Sejak Oktober 2023

Lebih lanjut Erlina menduga peningkatan kasus ini didominasi oleh subvarian EG.5 yang juga ditemukan di Singapura. Meski demikian untuk gejalanya kata Erlina cukup ringan sama seperti gejala Omicorn.

Baca Juga :

Ini Demam Khas Mycoplasma Pneumoniae pada Anak yang Perlu Diperhatikan Orangtua

“Belum ada data subvarian EG.5, dan HK.3 menghasilkan gejala yang berbeda dari varian lainnya. Jadi sama gejalannya ada demam tinggi, batuk, rhinorrhea (hidung meler), kehilangan penciuman dan pengecap,”ujar Erlina.

Selain itu diungkap Erlina bahwa varian ini juga memiliki gejala yang umum seperti varian COVID-19 lainnya yakni nyeri tubuh.

“Sakit tenggorok, gejala umum nyeri badan pada Covid, gejalanya enggak jauh berbeda, termasuk nyeri badan,” kata Erlina.

Di sisi lain, terkait dengan kasus kematian yang dilaporkan pada November lalu. Erlina menjelaskan bahwa faktir penentu berat ringannya gejala seorang terpapar COVID-19 ini tergantung pada kekebalan tubuh seseorang daripada varian yang menyebabkan infeksi.

Kekebalan tubuh yang rendah umumnya ditemukan pada lansia, orang dengan komorbid seperti diabetes mellitus, hipertensi yang tidak terkontrol, gangguan ginjal dan orang dengan kondisi imunokompromis seperti HIV, autominun, dan kanker.

Baca Juga  Kiper Keturunan Indonesia Selangkah Lagi Gabung Inter Milan, Bersaing dengan Yann Sommer

“PB IDI menganjurkan untuk memeriksa tieter antibody lansia, orang dengan komorbid, orang dengan imunokompromise dan menganjurkan orang tersebut untuk dibooster,” ujar Erlina.

 Di sisi lain, terkait dengan gejala ringan yang umum ditunjukkan oleh mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19 subvarian EG.5 ini lantaran beberapa faktor. Diungkap Erlina salah satunya lantaran subvarian EG.5 ini masih merupakan varian dari omicron. Selain itu, masih adanya tieter antibody usai vaskin booster yang dijalani oleh masyarakat meski kata dia sudah menurun.

“Orang booster sudah lewat dari enam bulan memang masih ada tieter antibodynya meski sudah menurun. Seperti kita tau bahwa vaksinasi tidak mencegah tapi menurunkan risiko kesakitan,” ujar Erlina Burhan.

Halaman Selanjutnya

Source : Times of India



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *